Posts

Showing posts with the label pemilu

PSI, INKONSISTENSI DAN MODEL KAMPANYE BAPER

Image
Kenapa Atheisme adalah tindakan paling konyol yang pernah ada, karena sebenarnya penolakan secara logika adalah bentuk penerimaan akan sebuah eksistensi. Kita tidak akan mungkin bisa menolak atau bahkan bercerita tentang apapun yang sebenarnya tidak ada. Misalnya ketika kalian saya minta untuk menceritakan sesuatu yang tidak ada secara eksistensi, maka tentu kalian akan bingung. Tidak ada beda dengan fiksi yang merupakan asosiasi ide-ide dari realitas-realitas partikulir (pembahasannya di lain waktu). Namun apapun itu, menolak sesuatu tetap saja merupakan bentuk pengakuan dan keterlibatan kepada sesuatu, minimal kita terlibat untuk membahasnya walaupun hasil pembaahasan kita tidak menerima atau menolak sesuatu itu. Bisakah seorang guru menilai sebuah kertas ujian yang kosong? yang bahkan nama murid pun mungkin tidak tertulis di sana? ataukah bisakah kalian menilai seorang wanita apakah dia cantik atau tidak kalau wanita itu tidak pernah dilahirkan? jawabannya sama, tidak bis...

Yang Bisa Kita Harapkan Dari Kampanye

Image
Entah dengan kalian, namun mungkin saya termasuk orang yang sudah jengah melihat bagaimana politik dipraktekkan oleh politikus saat ini. Namun, kejengahan saya pun tidak serta merta membuat saya menjadi a politis, sebagaimana pandangan orang-orang cerdas yang memilih apatis setelah melihat politik sebagai realitas yang menimbulkan disonansi kognitif pada dirinya. Saya mungkin tidak secerdas mereka yang memilih skeptis karena menganggap bahwa politik masih merupakan sebuah jalan perjuangan yang bisa ditempuh dengan harapan-harapan yang baik. Saya cukup bosan melihat dagelan mereka. Model kampanye mereka, atau tingkah mereka yang memposisikan diri seolah-olah tuan. Belum lagi tingkah para wakil rakyat yang suka bolos dan tidur namun tertawa terbahak-bahak seolah itu bukan dosa dihadapan anak STM yang menjadikannya bahan stand up comedy. Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi singkat dengan kawan di sosial media. Bukan berdiskusi sebenarnya, lebih tepat kalau disebut sebag...

Seperti itulah definisi mereka tentang “Pemilu”

Ini mungkin tahun yang sangat special, tahunnya para penipu. Berbahagialah mereka yang memiliki banyak uang, karena sebagian besar rakyat masih hidup dibawah ambang batas kemiskinan. Di tahun inilah orang-orang kaya bisa membeli dukungan untuk mendudukkannya di tahta kekuasaan dan di tahun inilah para aktivis-aktivis pragmatis berlomba-lomba mendulang emas dari jilatan dan proposal-proposal sampah mereka. Saya seperti menonton sebuah dagelan, melihat mereka berlomba-lomba dengan segala macam cara untuk mengibuli rakyatnya. Tapi sayangnya mereka tidak terlalu cerdas melakukan itu. Mereka hanya tahu memanfaatkan kondisi eknomi masyarakat sebagai posisi tawar paling menggiurkan yang dengan sekantung ransum mereka bisa mengontrol nasib rakyat selama 5 tahun kedepannya. Ada yang sibuk mengkampanyekan jargon poros tengahnya. Seolah-olah dirinyalah solusi bagi segala persoalan negeri ini. Dengan jargon “dari kalangan muda”, mereka mencoba mengkonstruksikan citranya sebagai figur alternat...

Politik Dan Dagelan Tentang Negara

Ada hal yang sangat lucu melihat realitas politik hari ini. Seandainya kita sadar bagaimana para cendikiawan dan orang-orang intelektual rela mengorbankan umur dan waktunya hanya untuk memikirkan bagaimana mencari bentuk yang ideal tentang negara dan sistem yang mensejahterakan rakyat, tentu saja kita akan sangat kecewa dengan tingkah laku politisi hari ini. Apa yang mereka lakukan, telah menjadikan semua usaha orang-orang intelektual menjadi sampah. Tingkah laku mereka menjadikan politik sebagai dagelan dan harus berujung dengan pencitraan negatif masyarakat tentang politik. Lihat saja bagaimana spanduk dan baliho mereka terpasang untuk merebut simpati rakyat. Alih-alih mendapatkan respon positif, justru dengan dangkalnya tagline-tagline mereka semakin menjadikan baliho dan poster-poster itu memuakkan. Mereka seharusnya sadar bahwa baliho-baliho itu adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingginya apatisasi politik rakyat hari ini. Karena Rakyat tidak lagi melihat balih...