Kesalahan Berfikir Ilmiah (Bagian 3) : Fallacy of Misplaced Concreteness

Fallacy of Misplaced Concreteness adalah jenis kesalahan berfikir yang berangkat dari kesalahan untuk memepersepsi dan memilah antara dua hal yang seharusnya abstrak dan konkret[1]. Hal-hal yang abstrak ditempatkan atau diposisikan pada posisi yang konkret dan begitupun sebaliknya.
Fallacy ini sering sekali terjadi dalam bentuk kesalahan pemberian solusi pada sebuah masalah akibat ketidakpahaman/ketidaktahuan kita apakah masalah tersebut adalah sebuah persoalan yang abstrak yang menuntut penyelesaian secara abstrak pula ataukah termasuk persoalan yang konkret yang menuntut penyelesaian dengan mengadakan sebuah fenomena empirikal. Dalam bentuknya yang general, sebenarnya semua kesalahan berfikir dalam memposisikan sebuah masalah termasuk dalamFallacy of Misplaced Concreteness. Misalnya, ada sebuah masalah tentang tingginya tingkat tawuran di sebuah daerah. Lalu pemerintah dan tokoh masyarakat setempat mengadakan sebuah pertemuan untuk menyikapi masalah tersebut. Hasil dari pertemuan itu adalah membuat sebuah aturan bahwa setiap rumah di daerah tersebut dilarang untuk memiliki senjata tajam mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar. Karena diprediksikan bahwa penyebab meningkatnya tawuran adalah karena akses kepemilikan terhadap senjata tajam sangat mudah untuk setiap warga dan hal ini diyakini sebagai pemicu utama mudahnya tawuran terjadi di daerah tersebut.
Tentu saja model solusi yang seperti ini adalah sebuah kesalahan berfikir. Kepemilikan senjata tajam sama sekali tidak memiliki relasi terhadap meningkatnya angka tawuran di sebuah daerah. Karena, senjata tajam bukanlah sesuatu yang diciptakan dengan tujuan tawuran, malah senjata tajam sangat membantu untuk menyelesaikan kegiatan-kegiatan masak-memasak. Misalnya, untuk memotong sayur dan daging, tentu saja tidak mungkin kalau kita menggunakan benda-benda tumpul. Penyebab utama munculnya tawuran di sebuah daerah adalah tingkat pendidikan masyarakat yang mayoritas tidak dalam ketegori yang baik. Tingkat kecerdasan pada diri seseorang sangat berpengaruh dengan kemampuan psikologis orang tersebut untuk mengendalikan emosinya. Bahkan, orang-orang yang memliki tingkat kecerdasan yang memadai adalah orang-orang yang mampu melihat masalah dari perspektif yang lain sehingga dapat lebih bijak dalam menghadapi sebuah masalah dan tidak cenderung untuk mengedepnkan emosi serta menjadikan perkelahian sebagai satu-satunya solusi.
Tawuran adalah contoh masalah yang berakar dari sebuah hal yang abstrak, yaitu tingakat pendidikan. Mengapa tingkat pendidikan disebut sebagai sebuah persoalan yang abstrak, karena tingkat pendidikan adalah hal yang tidak bisa terpahami secara inderawi. Ketika kita berbicara tentang tingkat pendidikan kita tidak berbicara tentang seberapa megah sebuah gedung sekolah dan seberapa lengkap fasilitas yang ada dalam sebuah lembaga pendidikan. Tapi kita berbicara tentang hasil dari sebuah program pendidikan yaitu bagaimana tingkah laku setiap peserta didik setelah mengikuti program tersebut.
Kesalahan ini paling banyak terjadi pada solusi-solusi yang diberikan atau dirumuskan oleh pemerintah dalam menyikapi sebuah fenomena. Yang jadi pertanyaan adalah karena kesalahan berfikir ini besandar pada ketidakmampuan intelektual seseorang dalam membedakan antara persoalan yang abstrak dan konkret, apakah kesalahan ini terjadi dalam sebuah sistem adalah hal yang sengaja dilakukan atau tidak? Apapun jawaban dari pertanyaan  ini tetap saja menyatakan ketidakvalidan sistem yang saat ini sedang berjalan.

[1] Abstrak dan konkret adalah dua terminologi yang saling berlawanan. Pengertian abstrak secara filosofis adalah semua realitas yang tidak dapat terpahami secara inderawi. Sedangkan, konkret adalah lawan dari abstrak yaitu semua realitas yang dapat terpahami oleh indera. Dalam definisi filosofis, sesuatu yang abstrak bukan berarti bahwa sesuatu itu tidak nyata (tidak riil/unreal).

Comments

Popular posts from this blog

PRO KONTRA MANTAN TERPIDANA JADI CALEG

Kesalahan Berfikir (Bagian 2) : Fallacy of Retrospective Determinism