Politik Dan Dagelan Tentang Negara

Ada hal yang sangat lucu melihat realitas politik hari ini. Seandainya kita sadar bagaimana para cendikiawan dan orang-orang intelektual rela mengorbankan umur dan waktunya hanya untuk memikirkan bagaimana mencari bentuk yang ideal tentang negara dan sistem yang mensejahterakan rakyat, tentu saja kita akan sangat kecewa dengan tingkah laku politisi hari ini.
Apa yang mereka lakukan, telah menjadikan semua usaha orang-orang intelektual menjadi sampah. Tingkah laku mereka menjadikan politik sebagai dagelan dan harus berujung dengan pencitraan negatif masyarakat tentang politik. Lihat saja bagaimana spanduk dan baliho mereka terpasang untuk merebut simpati rakyat. Alih-alih mendapatkan respon positif, justru dengan dangkalnya tagline-tagline mereka semakin menjadikan baliho dan poster-poster itu memuakkan. Mereka seharusnya sadar bahwa baliho-baliho itu adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingginya apatisasi politik rakyat hari ini. Karena Rakyat tidak lagi melihat baliho para politisi sebagai harapan, mereka justru melihat hal tersebut tidak lebih dari formalitas yang harus dilakukan mendekati musim pemilihan.
Sedih, ketika kita yang mengerti tetang politik dari perspektif keilmuan harus melihat ulah para politisi kacangan yang menggeser pemaknaan politik di realitas. Seharusnya politik itu dijadikan sebagai harapan rakyat akan adanya upaya mewujudkan keadilan. Tapi, karena tingkah laku sampah dan dagelan para politisi hari ini, tidak ada lagi yan bisa diharapkan selain berfikir bahwa politik adalah pekerjaan para pelawak berdasi. Atau urusan orang-orang yang krisis identitas. Entah apa motivasi mereka memajang wajah mereka dengan tagline yang dangkal, yang jelas fenomena ini telah menjadikan politik sebagai dagelan, bukan sebagai sebuah ilmu untuk mewujudkan masyarakat adil makmur.
Lihatlah bagaimana deretan sejarah mengabadikan pemikiran-pemikiran para cendikiawan sejak aristoteles sampai Giddens. Mereka berupaya menyusun kerangka paradimatik tentang bagaimana negara dan subsistemnya dijalankan. Sedangkan apa yang dilakukan para politisi? Berpose mengangkat tangan dengan tagline yang bahkan tidak mencerminkan gagasan paradigmatik? Ini sebuah ironi, karena ditingkatan pemikiran apapun, di kelompok masyarakat manapun, dalam budaya manapun, dan dalam tradisi paradigmatik apapun, baliho dan spanduk para politisi hari ini tidak dapat dijadikan sebagai referensi keilmuan dan bahkan sama sekali tidak mendidik.
Saya yakin, tidak ada orang tua hari ini yang ingin mendidik anaknya dengan menjadikan baliho para politisi hari ini sebagai referensi. Lihatlah baliho Calon Legislatif dengan tagline “berjuang untuk rakyat” atau yang semakna dengan hal tersebut. Ini tagline bodoh dan dangkal, karena berjuang untuk rakyat adalah kewajiban anggota legislatif. Anggota legislatif adalah wakil rakyat, namanya wakil, tentu saja harus memperjuangkan aspirasi rakyat. Yang aneh apabila itu tidak dilakukan. Jadi “berjuang untuk rakyat” bukan hal yang harus dijual atau dijadikan tagline, karena itu kewajiban semua anggota legislatif. Itu sama saja ketika ada orang islam bangga akan sholatnya. Itu sama gobloknya, karena sholat itu kewajiban dasar seorang muslim, bukan hal yang harus dijadikan pembeda sesama muslim.
Memang ironi ketika apa yang seharusnya menjadi harapan akan keadilan dan kesejahteraan hanya dijadikan dagelan oleh orang-orang krisis identitas. Atau mungkin lebih tepat kalau menyebut mereka itu sebagai orang tua “alay”. Karena secara substansial abg alay yang senang mengupdate status dangkal dan tolol di media sosial tidak ada bedanya dengan para politisi yang senang memasang baliho dan spanduk bergambar dirinya dengan tagline yang tidak berbobot. Bedanya cuma satu dalam bentuk media sosial dan satunya dalam bentuk spanduk dan baliho.
Apa yang mereka lakukan, telah menjadikan negara ini sebagai panggung dagelan. Dan setiap hari kita dikepung dengan dagelan-dagelan tolol mereka. Inilah fakta yang terjadi, politik dan dagelan tentang negara.

Comments

Popular posts from this blog

PRO KONTRA MANTAN TERPIDANA JADI CALEG

Kesalahan Berfikir Ilmiah (Bagian 3) : Fallacy of Misplaced Concreteness

Kesalahan Berfikir (Bagian 2) : Fallacy of Retrospective Determinism